Jumat, 26 April 2013

TEKNIK TOKEN ECONOMY DALAM TEORI KONSELNG BEHAVIOR


Token Economy

1. Pengertian Token Economy
Token ekonomy adalah sistem perlakuan kepada tiap individu untuk mendapatkan bukti target perilaku setelah mengumpulkan sejumlah prilaku tertentu sehingga mencapai kondisi yang diharapkan. Contoh seperti pada lembar bukti prestasi. Siswa mendapatkan bukti dalam bentuk rewads atau hadiah dari pekerjaan yang dapat ditunjukannya. (Jason, 2009 ; 35).

Token Economy merupakakan sistem perlakuan pemberian penghargaan kepada siswa yang diwujudkan secara visual. Token Economy adalah usaha mengembangkan prilaku sesuai dengan tujuan yang diharapkan melalui penggunaan penghargaan. Setiap individu mendapat penghargaan setelah menunjukan prilaku yang diharapkan. Hadiah dikumpul selanjutnya setelah hadiah terkumpul ditukar dengan penghargaan yang bermakna. (Joson, 2009 ; 66).

Menurut Wallin (1991), Token Economy yang diberikan kepada siswa merupakan dukungan sekunder untuk memperkuat suasana belajar supaya lebih kondusif. Oleh karena itu, penghargaan harus menjadi rangsangan yang netral atau tidak berpihak. Siswa berkompetisi untuk memperolehnya dengan cara mengumpulkan token sebanyak-banyaknya dalam proses kegiatan belajar mengajar.

Dari pengertian diatas dapat diketahui bahwa Token economy adalah sistem perlakuan kepada tiap individu untuk mendapatkan bukti target perilaku setelah mengumpulkan sejumlah prilaku tertentu sehingga mencapai kondisi yang diharapkan, dengan cara subyek mendapat penghargaan setelah menunjukan prilaku yang diharapkan. Hadiah dikumpul selanjutnya setelah hadiah terkumpul ditukar dengan penghargaan yang bermakna.

2. Tujuan Token Economy
Bukti Token Economy dapat digunakan untuk memenuhi berbagai tujuan pendidikan dalam membangun perilaku siswa. Penggunaan sistem time token ekonomi memiliki tujuan :
a.       Meningkatnya kepuasan dalam mendorong peningkatan kompetensi siswa melalui penghargaan yang kongkrit atau visual sehingga tingkat kesenangan siswa melakukan sesuatu prestasi benar-benar tampak.
b.      Meningkatnya efektivitas waktu dalam pelaksanaan pembelajaran. Belajar yang efektif adalah yang menggunakan waktu yang pendek dengan hasil yang terbaik dan terbanyak. Siswa harus menyadari berapa lama mereka telah belajar dan berapa banyak waktu yang telah mereka gunakan secara efektif untuk melaksanakan aktivitas belajar.
c.       Berkurangnya kebosanan – Suasana belajar yang kolaboratif, rivalitas, kompetitif yang diberi penguatan oleh pendidik dapat meningkatkan menurunkan tingkat di kebosanan siswa sehingga siswa dapat berpartisipasi dalam jangka waktu yang yang lama.
d.      Meningkatnya daya respon – Suasana belajar yang kompetitif akan meningkatkan kecepatan siswa meberikan respon. Setiap respon yang sesuai dengan tujuan akan segera mendapat penguatan sehingga suasana belajar menjadi cair, komunikatif dan lebih menyengkan.
e.       Berkembangnya penguatan yang lebih alami, – melalui pemberian penguatan yang tepat waktu akan dan disesuaikan dengan tingkat prestasi setiap siswa atau setiap kelompok siswa memungkinkan
f.       Meningkatnya penguatan untuk sehingga motivasi belajar berkembang – setiap siswa atau setiap kelompok siswa dalam kelas selalu dalam keadaan terpacu untuk mewujudkan dan daya pacu ini akan semakin berkembang jika siswa juga mendapat layanan untuk mengabadikan daya kompetisinya seperti dengan dukungan rekaman video.

3. Komponen Token Economy
Sebelum kegiatan belajar dilaksanakan pendidik menyiapkan beberapa komponen yang dibutuhkan, di antaranya:
a.       Token atau simbol praktis dan atraktif untuk memicu tumbuhnya motivasi belajar. Yang dapat digunakan sebagai simbol penghargaan seperti stiker, guntingan kertas, simbol bintang, atau uang mainan. Token sendiri tidak selalu dalam bentuk yang berharga, namun setelah siswa mengoleksinya setelah menunjukan prilaku yang diharapkan mereka dapat menukarkan token itu dengan sesuatu yang berharga. Dengan demikian setelah satu rentang waktu tertentu guru harus menyediakan barang penukar token yang berharga untuk siswa. Yang paling mudah seperti permen, alat tulis atau benda berharga lain yang dapat sekolah biayai.
b.      Definisi target prilaku jelas. Hal itu berarti guru maupun siswa perlu memahami dengan baik prilaku yang diharapkan. Siswa memahami benar prilaku seperti apa yang harus ditunjukannya sebagai hasil belajar. Penjelasan harus singkat namun cukup sebagai dasar pemahaman siswa mengenai hadiah yang dapat diperlehnya setelah menunjukan prestasi.
c.       Dukungan penguatan (reinforcers) dengan barang yang berharga. Dukungan itu dapat dalam bentuk barang berharga, hak istimewa, atau aktivitas individu yang dapat ditukar dengan makanan, perangkat permainan, waktu ekstra.
d.      Sistem penukaran token atau simbol. Sukses penyelenggaraan token ekonomi sangat bergantung pada sukses dalam memberikan penguatan yang dapat ditukarkan dengan nilai yang sebanding dengan prestasi yang dicapai.
e.       Sistem dokumentasi atau perekaman data. Pemberian penghargaan yangtepat sangat bergantung pada ketepatan menghimpun data. Oleh karena itu alat perekam dapat membantu meningkatkan proses ini sehingga informasi dari proses pembelajaran dapat dikelola dengan tingkat akurasi yang tinggi.
f.       Konsistensi dalam implementasi, untuk menjunjung konsistensi itu sebaiknya terdapat panduan teknis yang tertulis sebagai pegangan pelaksanaan tugas sehingga apa yang direncanakan itulah yang dilaksanakan.

4. Langkah-langakah pelaksanaan Token Economy
Mengacu pada pemikiran Robinson T.J. Newby dan S.L. Ganzell, (1981) merumusakan bahwa langkah utama dalam pelaksanaan sistem token ekonomi dapat dikembangkan sebagai berikut :
a.       Menentukan target prilaku atau kompetensi yang dapat siswa tunjukan. Guru memilih masalah penting sebagai target. Definisikan dengan jelas, harus dalam bentuk penyataan positif, dan harus dalam prilaku hasil belajar yang dikembangkan dalam bimbingan pembelajaran dalam kelas.
b.      Menentukan motode bagaimana langkah-langkah untuk memperoleh penghargaan dan nilai dari setiap penghargaan. Barkley (1990) memberi contoh untuk anak-anak umur 4-7 thaun menggunakan guntingan kartu berbentuk bintang, model perangko atau stiker. Setiap perangkat penghargaan diletakan siswa di atas meja belajarnya dalam kelas.
c.       Identifikasi nilai atraktif penghargaan. Mengembangkan penghargaan sebagai sesuatu yang berarti, praktis dan atraktif sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Hal penting yang dapat meningkatkan makna adalah keterlibatan siswa dalam proses memilih dan menyusun jenis dan nilai penghargaan. Dalam hal ini siswa dapat memperoleh kebebasan menentukan waktu
d.      Menentukan Tujuan, jumlah token yang dapat diperoleh serta nilai yang diperoleh untuk setiap penghargaan yang diperoleh.

Implementasi kegiatan ini memerlukan langkah lanjut :
a.       Penjelasan Program Kepada Siswa. Penjelasan mengenai program harus jelas. Siswa harus memahami aturan main sebelum belajar dimualai agar mereka dapat memanfaatkan waktu belajar secara optimal. Sejumlah penghargaan kepada siswa diberikan di antaranya karena ketepatan dan kecepatan menunjukan prilaku positif yang diharapkan.
b.      Guru memberikan masukan. Guru harus menentukan kapan hadiah akan didistribusikan, dengan ketentuan seperti apa, dan bagaimana siswa dapat memperoleh penghargaan, tata tertib seperti bagaimana? Pemberian penghargaan dapat guru lakukan tidak hanya sebatas dalam kurun waktu satu dua jam pelajaran, namun dapat pula menggunakan waktu berharihari, berminggu-minggu atau dalam satu semester sepanjang guru dapat memelihara kondisi tingkat revalitas, persaingan dan daya kolaborasi dapat terus dikobarkan sehingga berdampak positif terhadap hasil belajar siswa.
c.       Guru pengatur penghargaan. Guru memberikan penghargaan dengan memperhatikan tercapainya tujuan pembelajaran. Kejuaraan diperoleh dari pengumpul hadiah terbanyak. Hal itu berarti menjadi siswa yang berlajar paling efektif sehingga mencapai prilaku yang diharapkan. Jika siswa berhasil dalam satu hari dan ia tidak mendapatkan di waktu lain adalah sesuatu yang baiasa.










2.1 Definisi Konseling Realita
            Terapi realitas adalah suatu sistem yang difokuskan kepada tingkah laku sekarang. Terapis berfungsi sebagai guru dan model serta mengkonfrontasikan klien dengan cara-cara yang bisa membantu menghadapi kenyataan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar tanpa merugikan dirinya sendiri ataupun orang lain. Inti terapi realitas adalah penerimaan tanggung jawab pribadi, yang dipersamakan dengan kesehatan mental. Terapi realitas yang menguraikan prinsip-prinsip dan prosedur-prosedur yang dirancang untuk membantu orang-orang dalam mencapai sua tu “identitas keberhasilan” dapat diterapkan pada psikoterapi, konseling, pengajaran, kerja kelompok, konseling perkawinan, pengelolaan lembaga dan perkembangan masyarakat. Terapi realitas meraih popularitas di kalangan konselor sekolah, para guru dan pimpinan sekolah dasar dan menengah, dan para pekerja rehabilitasi.
            Sedangkan menurut Paul D. Meier, dkk., terapi realitas yang diperkenalkan oleh William Glasser memusatkan perhatiannya terhadap kelakuan yang bertanggung jawab, dengan memperhatikan tiga hal (3-R): realitas (reality), melakukan hal yang baik (do right), dan tanggungjawab (responsiblility).
Individu harus berani menghadapi realitas dan bersedia untuk tidak mengulangi masa lalu. Hal penting yang harus dihadapi seseorang adalah mencoba menggantikan dan melakukan intensi untuk masa depan. Seorang terapis bertugas menolong individu membuat rencana yang spesifik bagi perilaku mereka dan membuat sebuah komitmen untuk menjalankan rencana-rencana yang telah dibuatnya. Dalam hal ini identitas diri merupakan satu hal penting kebutuhan sosial manusia yang harus dikembangkan melalui interaksi dengan sesamanya, maupun dengan dirinya sendiri. Perubahan identitas biasanya diikuti dengan perubahan perilaku di mana individu harus bersedia merubah apa yang dilakukannya dan mengenakan perilaku yang baru. Dalam hal ini terapi realitas dipusatkan pada upaya menolong individu agar dapat memahami dan menerima keterbatasan dan kemampuan dalam dirinya.

2.2 Perspektif Historis
            Konseling realita (reality counseling atau reality therapy) dikembangkan oleh William Glasser pada tahun 1960-an sebagai reaksi penolakan terhadap konsep-konsep dalam konseling psikoanalisa. Glasser memandang Psikoanalisa sebagai suatu model perlakuan yang kurang memuaskan, kurang efektif,dan oleh karena itu ia termotivasi untuk memodifikasi konsep-konsep psikoanalisa dan mengembangkan pemikirannya sendiri berdasarkan pengalaman hidup dan pengalaman klinisnya.
            Glasser lahir pada tahun 1925 di Ohio, USA. Pada awal karirnya Glasser adalah seorang insyinyur kimia yang kemudian beralih ke bidang medis dan meraih gelar dokter pada tahun 1953 dari Case Westem Reserve University. Setelah itu Glasser berlatih dibidang psikiarti di Veterans Administrasion Center dan  di University of California. Konseling realita dikembangkan oleh Glasser atas dasar pengalamanya selama peraktek klinisnya antara 1956-1967. Pengalaman kehidupannya pada masa kanak-kanak yang keras dan cenderung tidak menyenagkan juga mempengaruhi pandangan teoritiknya,khususnya tentang penekanan pada pentingnya tanggung jawab pribadi, tidak merugikan orang lain, dan hubungan perkawinan. Seperti dikemukakan oleh Glasser sendiri (1998), ayah dan ibunya menerapkan pendidikan yang keras dan otoriter terhadap dirinya dan oleh karenanya ia tidak rukun dengan mereka.
Buku pertama yang yang ditulis oleh Glasser, Mental Healt or Mental Illnes? Menjadi grandwork bagi perkembangan teori konseling realita. Buku keduanya, Really Therapy (1965) menegaskan prinsip-prinsip dasar dalam Konseling realita, yakni tentang pentingnya hubungan dan tanggung jawab guna mencapai tujuan dan kebahagiaan hidup. Ia memiliki keyakinan bahwa konselor yang hangat dan penuh penerimaan  merupakan aspek esensial bagi keberhasilan perlakuan, dan hubungan yang akrab dan positif adalah esensial bagi perkembangan pribadi yang sehat.  Tilisan-tulisan dalam materi kuliahnya tidak hanya menekankan pada konseling realita sebagai metode perlakuan, tetapi menerapkan pada lingkungan sekolah dan lingkungan bisnis. Robert E. Wubbolding adalah salah satu pengikut Glesser yang memberikan kontribusi sangat penting bagi perkembangnan konseling realita.

2.3 Pandangan Teori Realita Mengenai Konsepsi Tentang Manusia
2.3.1 Pandangan Tentang Sifat Dasar Manusia
Seperti halnya teori–teori psikodinamik konseling realita memandang bahwa kesulitan atau problema perilaku manusia berakar pada pengalaman pada masa kanak-kanak. Untuk dapat berkembang dengan sehat anak  perlu berada ditengah-tengah orang dewasa yang dapat memberinya kasih sayng secara penuh. Kasih sayang yang memungkinkan anak untuk memeperoleh kebebasan kemampuan, dan kesenangan dalam cara-cara yang bertanggung jawab. Oleh karena itu, sejak tahun-tahun awal dalam kehidupannya, anak seharusnya memperoleh dukungan untuk membentuk sikap dan keyakinan bahwa ia mampu untuk mengenali dan memenuhi kebutuhannya dengan cara-cara yang positif.
Konseling ralita memandang manusia pada dasarnya dapat mengarahkan dirinya sendiri (self-determining). Glasser juga memiliki keyakinan bahwa individu memiliki kemampuan untuk menangani kesulitan-kesulitannya. Seperti dikatakan Glasser “we are ralely the victims of what happened to us in the past”. Manusia yang tidak mau belajaruntuk memenuhi kebutuhan mereka pada tahun-tahun awal kehidupan cenderung berpotensi mengalami kesulitan dikemudian hari. Pandangan optimistik Glasser tersebut menegaskan bahwa manusia dapat mengubah perasaan, tindakan dan nasib kehidupannya sendiri. Namun, itu dapat dilakukan hanya jika manusia telah menerima tanggung jawab dan bersedia mengubah identitasnya.
Glasser dan Wubbolding memiliki keyakinan bahwa semua manusia ketika dilahirkan membawa lima kebutuhan dasar atau genetik yang membuat mereka dapat mengembangkan kualitas kepribadian yang berbeda, sebagai berikut:
§  , yakni kebutuhan untuk mencintai dan dicintai, dan kebutuhan untuk berinteraksi atau berhubungan dengan orang lain.
§  Kebutuhan untuk merasa mampu atau berprestasi, yakni kebutuhan untuk merasa berhasil dan kompeten, berharga, dan dapat mengendalikan atau mengkontrol kehidupan sendiri.
§  Kebutuhan untuk mendapatkan kesenangan, yakni kebutuhan untuk bisa menikmati kebutuhan hidup, untuk bisa tertawa dan bermain.
§  Kebutuhan untuk memperoleh kebebasan atau kemandirian, yaitu kebutuhan untuk mampu membuat pilihan, untuk bisa hidup tanpa batas-batas yang berlebihan atau tidak perlu.
§  Kebutuhan untuk hidup, yakni termasuk didalamnya memperoleh kesehatan, makanan, udara, perlindungan, rasa aman dan kenyamanan fisik.
Kebutuhan-kebutuhan tersebut dapat saling tumpang tindih satu sama lain. Oleh karena itu, memenuhi suatu kebutuhan mungkin dapat memicu atau mempercepat kebutuhan yang lain. Bagaimanapun antara kebutuhan-kebutuhan tersebut mungkin saja terjadi konflik. Contohnya, orang yang bekerja keras untuk mencapai prestasi atau keberhasilan dalam mencapai kemandirian dan kekuasaan, mungkin mengalami kesulitan dalam membentuk hubungan yang menyenangkan dengan orang lain.
2.3.2  Perilaku Bermasalah
Reality therapy pada dasarnya tidak mengatakan bahwa perilaku individu itu sebagai perilaku yang abnormal. Konsep perilaku menurut konseling realitas lebih dihubungkan dengan berperilaku yang tepat atau berperilaku yang tidak tepat. Menurut Glasser, bentuk dari perilaku yang tidak tepat tersebut disebabkan karena ketidak mampuannya dalam memuaskan kebutuhannya, akibatnya kehilangan ”sentuhan” dengan realitas objektif, dia tidak dapat melihat sesuatu sesuai dengan realitasnya, tidak dapat melihat sesuatu sesuai dengan realitasnya, tidak dapat melakukan atas dasar kebenaran, tangguang jawab dan realitas.
Meskipun konseling realitas tidak menghubungkan perilaku manusia dengan gejala abnormalitas, perilaku bermasalah dapat disepadankan dengan istilah ”identitas kegagalan”. Identitas kegagalan ditandai dengan keterasingan, penolakan diri dan irrasionalitas, perilakunya kaku, tidak objektif, lemah, tidak bertanggung jawab, kurang percaya diri dan menolak kenyataan.
Menurut Glasser (1965, hlm.9), basis dari terapi realitas adalah membantu para klien dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar psikologisnya, yang mencangkup “kebutuhan untuk mencintai dan dicintai serta kkebutuhan untuk merasakan bahwa kita berguna baik bagi diri kita sendiri maupun bagi oaring lain”.
Pandangan tentang sifat manusia mencakup pernyataan bahwa suatu “kekuatan pertumbuhan” mendorong kita untuk berusaha mencapai suatu identitas keberhasilan. Penderitaan pribadi bisa diubah hanya dengan perubahan identitas. Pandangan terapi realitas menyatakan bahwa, karena individu-individu bisa mengubaha cara hidup, perasaan, dan tingkah lakunya, maka merekapun bisa mengubah identitasnya. Perubahan identitas tergantung pada perubahan tingkah laku.
Maka jelaslah bahwa terapi realitas yidak berpijak pada filsafat deterministik tentang manusia, tetapi dibangun diatas asumsi bahwa manusia adalah agen yang menentukan dirinya sendiri. Perinsip ini menyiratkan bahwa masing-masing orang memilkiki tanggung jawab untuk menerima konsekuensi-konsekuensi dari tingkah lakunya sendiri. Tampaknya, orang menjadi apa yang ditetapkannya.

2.3.3 Realita
Konseling Realita memandang individu dalam arti perilaku yang dapat diamati tetapi bukan dalam arti paradigma stimulus respon seperti halnya pandangan para konselor perilaku pada umumnya, dan bukan pula dalam arti fenomenologis seperti pandangan konselor humanistik. Konseling realita melihat perilaku melalui standart obyektif yang disebut realita (realiti). Realita ini dapat bersifat praktis (realitas praktis), realita sosial (realitas sosial), dan realita moral (realitas moral). Jadi, para konselor konseling realita memandang individu dalam arti apakah perilakunya sesuai atau tidak sesuai dengan reaita praktis, realita sosial, dan realita moral. Lengkapnya, Glasser mendasarkan sistem teorinya pada apa yang ia sebut dengan “3R”. 3R tersebut merupakan akronim dari reality (realita), responsibility (tanggung jawab), right and wrong (benar salah). Namun demikian, Glasser sebenarnya masih menambahkan 2R yang lain, yakni: relatedness (hubungan sosial) dan respect (penghargaan).
2.4 Pokok-pokok Teori Konseling Realita
  • Pendapat tradisional yang beranggapan bahwa seseorang berperilaku tidak bertanggungjawab disebabkan oleh gangguan mental ditolak oleh Glasser. Justru ia berpendapat bahwa orang mengalami gangguan mental karena ia berperilaku tidak bertanggungjawab. Terapi realitas menekankan pada masalah moral antara benar dan salah yang harus diperhadapkan kepada konseli sebagai kenyataan atau realitas. Terapi realitas menekankan pertimbangan menyangkut nilai-nilai. Ia menekankan bahwa perubahan mustahil terjadi tanpa melihat pada tingkah laku dan membuat beberapa ketentuan mengenai sifat-sifat konstruktif dan destruktifnya.
  • Pengalaman masa lalu diabaikan karena terapi realitas mengarahkan pandangan penilaiannya pada bagaimana perilaku saat ini dapat memenuhi kebutuhan konseli. Dengan kata lain terapi realitas berfokus pada tingkah laku sekarang. Meskipun tidak menganggap perasaan dan sikap tidak penting, tetapi terapi realitas menekankan kesadaran atas tingkah laku sekarang. Terapi realitas adalah proses pengajaran (teaching process) dan bukan proses penyembuhan (healing process). Itu sebabnya terapi realitas sering menggunakan pula pendekatan kognitif dengan maksud agar konseli dapat menyesuaikan diri terhadap realitas yang dihadapinya.
  • Faktor alam bawah sadar sebagaimana ditekankan pada psiko-analisis Freud tidak diperhatikan karena Glasser lebih mementingkan “apa” daripada “mengapa”-nya.
  • Terapi realitas menolong individu untuk memahami, mendefinisikan, dan mengklarifikasi tujuan hidupnya.
  • Terapi realitas menolak alasan tertentu atas perbuatan yang dilakukan. Misalnya, orang yang mencuri tidak boleh beralasan bahwa ia terpaksa atau kepepet, dsb.


2.5 Tujuan Koseling Realita
Tujuan konseling realita adalah membantu konseli agar memiliki kontrol yang lebih besar terhadap kehidupanya sendiri dan mampu membuat pilihan yang lebih baik. Pilihan yang lebih baik tersebut merupakan suatu pilihan yang bijaksana yang dipersepsi sebagai pilihan yang memenuhi kriteria berikut:
§  Dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar
§  Bertanggung jawab
§  Realistik
§  Memungkinkan untuk dapat menjalin hubungan yang saling memuaskan dengan orang lain
§  Memungkinkan untuk mengembangkan identitas berhasil
§  Memungkinkan untuk memiliki ketrampilan yang konsisten untuk membentuk tindakan yang sehat yang meningkatkan prilaku totalnya
Untuk mencapai tujuan-tujuan ini, karakteristik konselor realitas adalah sebagai berikut:
§  konselor harus mengutamakan keseluruhan individual yang bertanggung jawab,  yang dapat memenuhi kebutuhannya.
§  Konselor harus kuat, yakin, tidak pernah ”bijaksana”, dia harus mampu menahan tekanan dari permintaan klien untuk simpati atau membenarkan perilakunya, tidak pernah menerima alasan-alasan dari perilaku irrasional klien.
§  konselor harus hangat, sensitif terhadap kemampuan untuk memahami perilaku orang lain
§  konselor harus dapat bertukar fikiran dengan klien tentang perjuangannya dapat melihat bahwa seluruh individu dapat melakukan secara bertangung jawab termasuk pada saat-saat yang sulit.

PERAN KONSELOR :
§  Konselor terlibat dengan klien membawa klien menghadapi realita
§  Tidak membuat pertimbangan nilai dan keputusan bagiklien
§  Mengajarkan konseli membuat rencana & ketrampilan
§  Bertindak tegas
§  Pembimbing
§  Moralis
§   Memberi hadiah
§  Mengajar klien
FUNGSI KONSELOR :
§  Terlibat dengan klien dan kemudian membawa lien menghadapi realita
§  Sebagai pembimbing untuk membantu akan menafsirkan tingkah laku mereka secara ralistis
§  Keterlibatan (Involument)
§  Sebagai contoh perilaku yang baik

2.6 Teknik dan Proses Konseling Realita
            Konseling Realita menggunakan banyak teknik untuk mencapai tujuan-tujuan konseling, khususnya teknik-teknik dari perspektif konseling perilaku seperti yang telah dikemukakan. Teori konseling realita memiliki beberapa teknik tersendiri yaitu:
·         Metapor
Konselor menggunakan taknik ini seperti senyuman, imej, analogi, dan anekdot untuk memberi konseli suatu pesan penting dalam ccara yang efekitif. Konselor juga mendengarkan dan menggunakan metapor yang ditampilkan diri konseli
·         Hubungan
Menggunakan hubungan sebagai bagian yang asensial dalam proses terapoutik. Hubungan ini harus memperlihatkan upaya menuju perubahan, menyenagkan, positif, tidak menilai, dan mendorong kesadaran konseli.
·         Pertanyaan
Konselor menekankan evaluasi dalam perilaku total, asesmen harus berasal dari konseli sendiri. Konselor tidak mengatakan apa yang harus dilakukan koseli, tetapi menggunakan pertanyaan yang terstruktur dengan baik untuk membantu konseli menilai hidupnya dan kemudian merumuskan perilaku-perilaku yang perlu dan tidak perlu di ubah.

·         WDEP & SAMI2C3
Merupakan akronim dari wants (keinginan), direction (arahan), evaluasi (penilaian), dan planing (rencana). Teknik ini digunakan untuk membantu konseli menilai keinginan-keinginannya. Perilaku-perilakunya, dan kemudian merumuskan rencana-rencana.
SAMI2C3 mempersentasikan elemen-elemen yang memaksimalkan keberhasilanya keberhasilan rencana : mudah/ sederhana (simple), dapat dicapai (attainable), dapat diukur (measurable), segera (immedate), melibatkan tindakan (involving), dapat dikontrol (controled), konsisten (consistent), dan menekankan pada komitmen (committed)
·         Renegosiasi
Konseli tidak selalu dapat menjalankan rencana perilaku pilihanya. Jika ini terjadi, maka konselor mengajak konseli untuk membuat rencana ulang dan menemukan pilihan perilaku lain yang lebih mudah.
·         Intervebsi paradoks
Terinspirasi oleh Frankl (pendiri konselng Gestalt), Glasser menggunakan paradoks untuk mendorong konseli menerima tanggung jawab bagi perilakunya sendiri. Intetrvensi paradoksikal ini memiliki dua bentuk rerabel atau reframe dan paradoxical pressciption.
·         Pengembangan ketrampilan
Konselor perlu membantu konseli mengembangkan ketrampilan untuk memnuhi kebutuhan dan keinginan-keinginannya dalam cara yang bertanggung jawab. Koselor dapat mengajar konseli tentang berbagai ketrampilan seperti perilaku asertif, berfikir rasional, dan membuat rencana.
·         Adiksi positif
Menurut Glesser, merupakan teknik yang digunakan untuk menurunkan barbagai bentuk perilaku negatif dengancara memberikan kesiapan atau kekuatan mental, kreatifitas, energi dan keyakinan. Contoh : mendorong olahraga yang teratur, menulis jurnal, bermain musik, yoga, dan meditasi.
·         Penggunakan kata kerja
Dimaksudkan untuk membantu jonseli agar mampu mengendalikan hidup mereka sendiri dan membuat pilihan perilaku total yang positif. Daripada mendeskripsikan koseli dengan kata-kata: marah, depresi, fobia, atau cemas konselor perlu menggunakan kata memarahi, mendepresikan, memfobiakan, atau mencemaskan. Ini mengimplikasikan bahwa emosi-emosi tersebut bukan merupakan keadaan yang mati tetapi bentuk tindakan yang dapat diubah.
·         Konsekuensi natural
Konselor harus memiliki keyakinan bvahwa konseli dapat bertanggung jawab dan karena itu dapat menerima konsekuensi dari perilakunya. Koselor tidak perlu menerima permintaan maaf ketika konseli membuat kesalahan, tetapi juga tidak memberikan sangsi. Alih-alih koselor lebih memusatkan pada perilaku salah atau perilaku lain yang bisa membuat perbedaan sehingga konseli tidak perlu mengalami kosekuensi negatif dari perilakunya yang tidak bertanggung jawab.

Proses Konseling
            Konseling realita menekankan pentingnya hubungan antara konselor dan konseli dan macam hubungan ini dipandang esensial dalam proses perlakuan. Dengan demikian kemampuan konselor untuk terlibat dengan konseli merupakan ketrampilan esensial dalam konseling realita. Glasser Wubbolding mengemukakan beberapa cara untuk mencapai keterlibatan sebagai berikut:
§  Bertindak sebagai guru dan mendegarkan konseli dengan penuh perhatian, hangat, bersahabat, merawat, respek, optimis, jujur, dan tulus.
§  Bersedia untuk membuka diri pada konseli.
§  Menggunakan kata gfanti saya dan kita untuk menekankan sifat kolaboratrif.
§  Tidak menggunakan tekanan, penilaian dan pemaksaan pada konseli, tetapi memotivasi konseli melalui dorongan dan penguatan.
§  Memusatkan perhatian pada perilaku sekarang.
§  Menggunakan pertanyaan “apa” dan bukan “mengapa”
§  Tidak menerima permintaan maaf.
§  Jika perlu mengunakan konsultasi, pendidikan, dan tindak lanjut guna memfasilitasi perlakuan.
§  Tegas dalam membantu konseli dan tak pernah menyerah.

2.7 Ilustrasi Kasus
Amir siswa kelas 7 SMP, dia sangat tidak disiplin sehingga dia mengalami hambatan dalam menjalankan kewajibannya sebagai siswa disekolah. Hal ini tentu akan  berakibat pada proses belajar mengajar dan prestasi belajar Amir disekolah. Bimbingan bagi Amir ini sangat diperlukan untuk membantu menyelesaikan permasalahan dan agar membuat Amir dapat mengikuti proses belajar mengajar secara baik.
Dalam hal ini, Amir diberikan bantuan dengan konseling realita dengan menggunakan prosedur WDEP. Amir diingatkan kembali pada keinginan-keinginannya, tujuannya, kemudian memberikan arahan-arahan merumuskan rencana baru dan konselor memberikan pengawasan terhadap perillakunya

1 komentar:

  1. mohon maaf. tolong beri tahu sumber rujukan / referensi anda memperoleh materi tersebut. terimakasih sebelumnya.

    BalasHapus