Senin, 10 Juni 2013

KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI (KETERAMPILAN MENDENGARKAN DAN BERTANYA)


BAB I
PENDAHULUAN
1.1       Latar Belakang
Keterampilan bertanya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam rangka meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran, yang sekaligus merupakan bagian dari keberhasilan dalam pengelolaan instruksional dan pengelolaan kelas. Melalui keterampilan bertanya guru mampu mendeteksi hambatan proses berpikir di kalangan siswa dan sekaligus dapat memperbaiki dan meningkatkan proses belajar di kalangan siswa. Dengan demikian, guru dapat mengembangkan pengelolaan kelas dalam CBSA dan sekaligus pengelolaan instruksional menjadi lebih efektif. Selanjutnya dengan kemampuan mendengarkan guna dapat menarik simpati dan empati di kalangan siswa sehingga kepercayaan siswa terhadap guru meningkat yang pada akhirnya kualitas proses pembelajaran dapat lebih di tingkatkan.
Keterampilan mendengarkan seharusnya mengiringi keterampilan bertanya dalam komunikasi yang efektif. Karena sebaik apa pun komunikasi terhadap seseorang tanpa diiringi dengan kemampuan mendengar maka komunikasi tidak efektif. Kemampuan mendengarkan secara aktif diartikan sebagai proses pemahaman secara aktif untuk mendapatkan informasi, dan sikap dari pembicara yang tujuannya untuk memahami pembicaraan tersebut secara objektif.
1.2       Rumusan Masalah
a)    Bagaimana Keterampilan Mendengar yang Baik
b)   Bagaimana Keterampilan Bertanya yang Baik
1.3       Tujuan
a)    Agar Mengetahui Bagaimana Keterampilan Mendengar yang Baik
b)   Agar Mengetahui Bagaimana Keterampilan Bertanya yang Baik
BAB II
PEMBAHASAN

2.1       Keterampilan Mendengar yang Baik
A.    Keterampilan Mendengar
Mendengarkan bukan sekedar merupakan perkara fisik “mendengarkan”. Mendengarkan merupakan proses intelektual dan emosional. Dengan proses itu orang mengumpulkan dan mengintegrasi antara input, fisik, emosional dan intelektual dari orang lain dan berusaha menangkap pesan serta maknanya. Tujuan mendengarkan menurut Soli Abimanyu (1996 :89) adalah mengumpulkan informasi yang ada hubungannya dengan masalah yang dihadapi dan tujuan yang dikemukakan oleh seseorang.
Mendengar dengan baik tidak terjadi dengan gampang. Mendengarkan merupakan kerja keras. Mendengarkan bukan hanya menyangkut konsentrasi, dan kepekaan tetapi juga berbagai perubahan fisik dalam tubuh. Pada waktu mendengarkan dengan baik, detak jantung kita bertambah, suhu badan semakin menaik, dan peredaran darah menjadi lebih cepat.
Agar dapat menjadi pendengar yang baik, kita harus berusaha menjadi objektif. Meskipun objektivitas penuh itu jarang ada, mendengarkan menuntut usaha yang secara sadar mencoba untuk mengerti orang yang berbicara dengan kita, tanpa membiarkan pendapat pribadi mempengaruhi arti dan maksud kata-katanya. Kita harus berusaha untuk mengerti apa yang hendak disampaikan kepada kita oleh orang yang berbicara dengan kita dan bukan apa yang ingin kita mengerti. Hal ini membantu kita untuk melihat dan merasakan apa yang dilihat dan dirasakan oleh orang yang berbicara dengan kita. Dengan demikian kita, jasanya,dapat menembus lambang-lambang komunikasi dan lebih dekat dengan kenyataan yang bersangkutan dalam pembicaraan.
Sebagai komunikan atau komunikator dengan pendengaran yang jelek, maka kita tidak akan mampu menangkap pesan yang disampaikan masing-masing. Akibatnya kita tidak menangkap makna yang tersirat dalam ungkapan tersebut. Karena tidak menangkap makna pesan yang tepat, maka diantara keduanya saling mengajukan pertanyaan kembali. Kondisi seperti ini tentu merupakan komunikasi yang tidak efektif. Kurangnya kecakapan mendengarkan juga menciptakan rasa kurang percaya pada orang yang diajak berbicara. Karena mereka tidak percaya kepada kita, pada waktu berbicara dengan mereka, mereka juga tidak akan mendengarkan lawan bicaranya. Sebaliknya jika kita memiliki kecakapan yang baik dengan orang-orang yang kita ajak berbicara kita akan membangun hubungan yang komunikatif dengan orang yang kita ajak bicara. Kita dengan mudah dapat menangkap makna pesan yang disampaikan apakah itu harapan, komentar, gagasan dan sebagainya.
Cara mendengarkan yang baik :
·         Memelihara perhatian penuh dan terpusat pada perhatian
·         Mendengarkan segala sesuatu yang dikatakan oleh klien
·         Mendengarkan keseluruhan pribadi klien (kata-katanya, perasaan dan perilakunya). Memahami seluruh pesannya.
·         Mengarahkan apa yang anda katakan terhadap apa yang telah dikatakan oleh klien. Verma (1988) menyarankan bahwa jika ingin menjadi pendengar yang baik maka jadilah “ACTIVE LISTEN”. A singkatan dari attention yang berarti menaruh perhatian penuh terhadap pesan yang disampaikan baik oleh komunikator maupun komunikan, C singkatan dari Consern yang berarti tertarik atau focus pada pesan pokok yang disampaikan, T singkatan dari timing yang berarti memilih waktu yang tepat dalam merespon dan tidak menyela, I singkatan dari invlovement yang berarti merasa ikut terlibat dalam suatu percakapan, V singkatan dari vocal tones yang artinya memperhatikan irama suara dalam komunikasi dengan menyesuaikan diri dengan lawan bicara, E singkatan dari eye sakan contact yang berarti, melakukan kontak mata yang baik yaitu tidak menatap secara monoton tapi sesuai dengan kebutuhan. Berikutnya L singkatan dari look yaitu melihat dan memperhatikan bahasa tubuh (body languange) lawan bicara apakah antara respon verbal telah sesuai dengan bahasa non verbal, I singkatan dari interest yang artinya menunjukkan minat yang tinggi terhadap lawan bicara atau materi yang dibicarakan, S singkatan dari summarize artinya dapat menangkap makna pokok pesan secara singkat, T singkatan dari territory artinya batasilah atau focus pada hal-hal penting saja tidak melebar kepada konteks lain, E singkatan dari empathy artinya menunjukkan kebersamaan, merasakan apa yang dirasakan lawan bicara, N singkatan dari nod artinya menandakan telah memahami atau setuju dengan apa yang dibicarakan.
Seorang bijak mengatakan bahwa “ a good leistener is a silent flettere “ artinya, menjadi pendengar yang baik adalah tersanjung. Mendengar (hearing) dan mendengarkan (listening adalah dua makna yang berbeda). Mendengar adalah kegiatan yang tidak konsentrasi untuk mendengar. Sedangkan mendengarkan adalah ada unsur sengaja dan konsentrasi terhadap apa yang di dengarkan. Menjadi pendengar yang baik adalah memusatkan perhatian terhadap apa yang didengarkan dan ada usaha yang lebih untuk benar-benar mengetahui dan memahami apa yang dimaksud oleh lawan bicara.
Cara mendengarkan yang jelek :
·         Memungkinkan anda sendiri diganggu oleh keributan lain, pandangan diluar pandangan klien mengajukan pertimbangan-pertimbangan tentang pribadi klien sebelum mendengarkan semua pesan klien.
·         Merumuskan suatu respon terhadap pesan klien sebelum klien mengakhiri pesannya.
·         Melompat-lompat dari topik yang satu ke topik yang lain.
Di bawah ini kita akan membicarakan kecakapan-kecakapan yang dapat jxjxhxhsh
yang kita pergunakn untuk mendengarkan orang yang kita ajak bicara. Dengan melaksanakan gagasan dan saran yang termuat dalam uraian di bawah ini, kita harap mampu menjalani hubungan yang baik dan menciptakan saling percaya antara kita dan orang yang kita ajak berbicara. Hal ini tentu saja akan memperlancar komunikasi.

B.     Macam-macam pendengar
Phillip L.Hunsaker dan Anthony J.Alessandra (1996 : 19-21) mengklarifikasikan pendengar menjadi empat tingkatan yaitu : 1) pendengar yang bukan mendengar, (2) pendengar dangkal, (3) pendengar evaluatif, (4) pendengar aktif. Dalam kaitan dan uraian ini hanya dijelaskan tiga jenis pendengar yaitu pendengar dangkal, pendengar evaluatif, pendengar aktif.
a.Pendengar dangkal
            pendengar dangkal adalah mendengarkan suara dan kata-kata, tetapi tidak sungguh-sungguh mendengarkan. Isi atau pesan pembicaraaan terungkap, tetapi tidak tertangkap. “pendengar dangkal” secara datar ada dipermukaan persoalan atau masalah, dan tidak mengambil resiko untuk masuk kedalamnya. Dia menunda perkara di luar, dia menghindari pembicaraan serius, dan jika mendengarkan dia cenderung hanya mendengarkan hal-hal yang sepele dan bukan yang pokok. “pendengar  dangkal” dapat jatuh pada perasaan terhibur palsu bahwa dia dapat mendengarkan, tetapi dia tidak mengerti apa yang dikatakan orang kepadanya. Tanggapanya terhadap hal yang penting yang disampaikan kepadanya sering dipersoalkan karena meleset dari masalah pokoknya.
            b. Pendengar Evaluatif
            Pendengar  evaluative artinya, mendengarkan dengan konsentrasi dan perhatian lebih besar daripada tingkat mendengarnya di atas. Pendengar evaluative  dimana pendengar secara aktif berusaha mendengar apa yang dikatakan orang, tetapi tidak berusaha untuk mengerti sepenuhnya apa  makna  pembicaraan orang. Kita lebih cendrung menjadi pendengar yang logis, lebih menaruh perhatian pada  isi dari pada perasaan. “Pendengan Evaluatif” cendrung tetap tak terlibat secara emosional dalam pembicaraan. Dia cukup merumuskan  kembali isi pembicaraan yang baru didengar dari orang lain, tetapi sama sekali tidak tahu isi lain dari pembicraan yang diungkapkan oleh pembicara lewat nada suara, ungkapan wajah, dan gerak-gerik. Dia dapat menangkap arti kata, data atau fakta yang di utarakan  dan kesimpulan-kesimpulan yang dapat ditarik dari pembicaraan, tetapi kepekaan untuk menangkap perasaan dan pemahaman yang benar, lemah sekali. Pendengar Evaluatif merasa yakin bahwa dirinya mengerti orang berbicara dengannya, tetapi orang yang berbicara dengannya merasa tidak mengerti olehnya. Mendengarkan secara evaluative mempercepat pembicaraan. Karena pendengar evaluative dengan cepat menyambung, bahkan memotong, pembicaraan orang lain, entah larena setuju atau tidak. Konsentarsi ‘pendengar evaluative” hanya  terpusat pada satu segi pembicaraan. Hal ini membentuk pendapatnya atasdasar penangkapanya yang tidak lengkap atas isi pembicaraan orang lain. Akibatnya orang yang berbicara dengan dia merasa kurang dimengerti, dipahamidan diterima.
            c. Pendengar aktif
            Tingkat mendengarnya ini merupakan tingkat mendengarkan yang paling tinggi dan paling baik. Jika kita sudah mapu menahan diri untuk tidak menilai ucapa-ucapan orang yang berbicara dengan kita dan menempakan diri pada tempatnya dengan berusaha untuk melihat perkara dari segi pandangnya, kita sudah berhasil mencapai tingkat mendengarkanini. Kita sudah menjadi pendengar aktif. Pada tingkat ini terjadi komunikasi yang sejati. Kita tidak hanya penuh perhatian terhadap kata-kata yang diucapkan orang, tetapi berusaha menjadi satu dengannya. Untuk ini kita perlu menahan pikiran dan persaan kita sendiri dan memusatkan pikiran perhatian pada mendengarkan orang yang berbicara dengan kita. Kita tidak hanya mendengarkan isi ucapan-ucapan tetapi tidak lebih penting juga persaan yang menyertai. Kita perlu menunjukkan kepada orang yang berbicara dengan kita, bain secara verbaldan non verbal, bahwa kita betul-betul mendengarkannya. Pendengan aktif tidak memotong pembicaraan orang. Dia amat penuh pengertian. Dia berusaha untuk selalu mencari tanda-tanda satu gejala verbal atau non verbal yang merupakan ungkapan untuk menyatakan hal yang ingin dikatakan. Dia mendengarkan tidak hanya apa yang dikatakan "dan bagaimana hal itu dikatakan orang, tetapi juga peka terhadap apa yang dikatajan. “Pendengar aktf” adalah orang yang cakap mengajukan pertanyyan-pertanyaan. Dia mempergunakan pertanyaan-pertanyaan untuk memperjelas, mengembangkan dan memperluas pembicaraan, dengan maksu secara enak dand agar seluruh hal yang hendak dikatakan orang kepadanya terungkap secara enak danleluasa.
            Pendengar aktif memiliki tiga keterampilan penting yamg tidak dimiliki oleh pendengar-pendengar pada tingkat dibawahnya, dia dapat mengkap, memperhatikan dan menjawab.
·         Menangkap
Menangkap dalam arti dapat mengenal dan menghargai bmaksud yang tak terucapkan yang disampaikan orang yang berbicara dengannya lewat nada suara, raut wajah, dan gerak-gerik.
·         Memperhatikan
Memperhatikan dalam arti mampu menyampaikan pesan-pesan kepada orang yang berbicara dengannya lewat kata-kata suara, raut wajah dan gerak-gerik yang menunjukkan perhatian, sikap bersedia menerima, dan pengakuannya terhadap orang yang berbicara dengannya beserta maksud yang hendak disampaikan olehnya. Hal ini mencakup kontak mata, raut wajah, gerak-gerik,anggukan kepala, dan sikap tenang.
·         Menjiwai
Cakap menjiwai dalam arti cakap member tanggapan yang menunjukkan ketepatannya menangkap agar orang itu dengan bebas dapat terus berbicara dengan enak dan mengeluarkan isi pikiran dan hatinya, mendapatkan informasi yang di butuhka, serta membuat orang yang berbicara denganya di pahami.

C.       Hambatan  dalam Mendengarkan

·         Motivasi dan sikap
Motivasi dan sikap mungkin merupakan hambatan yang paling besar untu mendengarkan dengan baik. Kita cenderung untuk mendengarkan hal yang ingin kita dengar saja dan tidk mendengarkan hal yang seharusnya kita dengar. Maka jika kita masuk dalam situasi dimana kita harus mendengarkan dan kita tidak memiliki motivasi dan sikap untuk mendengarkan dan kita akan mendengarkan, menangkap atu mengerti apa yang dikatakan orang
·         Kurang Konsetrasi dan Perhatian
Kekurangan konsentrasi dan perhatian dapat terjadi karena orangnya memang tidak cakap memusatkan perhatian untuk jangka waktu yang cukup lama, karena orang itu terbagi perhatianya. Misalnya, antara membaca majalanyang dipegangnya dan mendengarjkna orang yang berbicara denganya. Karena gangguan di luar seperti suara, orang-orang yang berbicara ramai-ramai, dan telepon yang terus-menerus berdering. Semua ini mengganggu kosentrasi dan perhatian dalam mendengarkan.

·      Pengertian Salah Tentang Arti  Mendengarkan 
                                    Banyak orang mengira bahwa mendengarkan merupakan kegiatan yang positif. Maka kita cendrung mau banyak bicara dan tidak mau mendengarkan. Tetapi kalau ada dua orang berbicara dan kedua-duanya hanya mau bicara dan tidak mau mendengarkan, mereka tidak hanya tidak saling mendengarkan, tetapi juga merusak komunikasi dan hubungan antara mereka. Karena dari tindakan tidak saling mendengarkan itu, mereka tidak saling menerima. Sebaliknya jika mendengarkan itu merupakan kegiatan aktif dan terjadi interaksi antara pendengaran dan orang yang berbicara, maka kemungkinan untuk saling menerima dan mengerti diantara mereka menjadi lebih besar.
·      Pengalaman Dan Latar Belakang
                                    Pengalaman dan pendidikan mempengaruhi dalam mendengarkan. Misalnya, jika kita mendengarkan ceramah dibidang ilmu yang tidak kita kuasai dan dalam ceramah itu dipergunakan banyak istilah teknis, kita akan sulit mendengarkan dan menangkap isi ceramah dengan lengkap. Sama halnya jika kita miskin dalam pembendaharaan kata dalam bahasa yang digunakan dalam pembicaran, kita akan sulit berbicara dengan orang yang kaya dengan berbagai istilah mutakhir.
·      Tempat Untuk Mendengarkan yang Jelek
                                    Tempat dimana kita berkomunikasi dan berbicara dengan orang lain mempengaruhi cara kita mendengarkan orang itu. Kita tidak dapat mendengarkan orang lain dengan baik jika tempat berkomunikasi dan berbicara itu ramai. Kita tidak dapat mendengarkan orang lain dengan baik jika tempat berkomunikasi dan berbicara itu tidak nyaman dan mengganggu misalnya tempat duduk tidak enak dan udara pengap, penuh bau tidak sedap. Kita tidak dapat mendengarkan orang lain, yang berbicara dengan kita dengan baik, jika tempat duduk kita jauh dari tempat duduk orang yang berbicara dengan kita. Kita tak dapat mendengarkan dengan baik, jika tempat komunikasi dan tempat berbicara terlalu banyak iasan yang begitu indah dan asing, sehingga kita lebih tertarik pada iasan dari pada isi dan maksud yang hendak disampaikan orang kepada kita. Maka jika kita hendak mendengarkan orang dengan baik, tempat untuk mengadakan pembicaraan, apalagi untuk pembicaran yang serius perlu dipertimbangkan.
·      Prasangka
prasangka tercipta dalam diri kita dapat sekedar rasa, keyakinan,atau nilai-nilai yang kita pegang. Rasa dapat menghambat dan membantu kita untuk mendengarkan orang lain. Kita cendrung sulit mendengarkan orang yang tidak kita sukai dan mudah mendengarkan orang yang kita sukai. Jika hal yang kita dengar sejalan dengan keyakinan kita, kita cendrung untuk lebih mendengarkan dengan penuh perhatian dari pada hal yang tidak sejalan dengan keyakinan kita. Jika nilai yang terkandung dalam pembicaraan cocok dengan nilai yang kita pegang, kita cendrung lebih menyerapnya dari pada pembicaraan tentang nilai tidak cocok. Oleh karena itu dalam proses mendengarkan kita perlu kritis dengan diri sendiri dan berusaha menghilangkan perasangka yang ada dalam diri kita. Sebab hanya dengan bebas dari prasangka kita dapat mendengarkan orang lain secara penuh dan tanpa saingan.
·      Cara Orang Berbicara
Ada orang berbicara dengan cara sistematik. Ada orang berbicara agak acak-acakan. Ada orang berbicara cepat. Ada orang yang berbicara lambat. Cara orang berbicara itu mempengaruhi kita waktu mendengarkanya. Kita mungkin lebih mudah mendengarkan orang yang berbicara cepat. Tetapi orang lain mungkin lebih lebih mudah mendengarkan orang yang berbicara lambat. Tambahan pula cara orang menangkap pembicaraan juga berbeda-beda. Tipe auditif, misalnya lebih mudah menangkap pembicaraan lewat telinga dari pada visual yang lebih mudah menangkap lewat mata. Kebiasaan pada waktu mendengarkan dan bakat untuk menangkap pembicaraan orang lain, kita mampu memanfaatkan kekuatan kita dan menangkap pembicaraan orang dengan lebih baik.
·      Kurang Kecakapan untuk Mendengarkan
kekurangan kecakapan untuk mendengarkan merupakan hambatan untuk mendengarkan yang paling jelas. Salah satu cara untuk mengatasi kekurangan itu adalah menyadari hambatan-hambatan yang sudah disebut di atas. Dan jika sudah merasa melihat hambatan itu pada diri sendiri berusaha untuk mengatasinya. Cara yang kedua adalah mengembangkan kecakapan itu. Dan cara ketiga adalah membina motivasi menjadi pendengar yang baik.
2.2       Ketrampilan Bertanya yang Baik
A.  Keterampilan Bertanya
Bertanya adalah kegiatan yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari. Disekolah, di kantor, di rumah dan dimana saja selalu terjadi kegiatan Tanya jawab.
            Pertanyaan yang diajukan oleh seseorang biasanya untuk memperoleh informasi mengenai hal yang belum diketahui. Dalam komunikasi antar pribadi, pertanyaan yang diajukan oleh komunikator atau komunikan bertujuan untuk mengetahui apa yang belum diketahui oleh masing-masing pihak. Secara lebih khusus tujuan bertanya antara lain:
a)      Untuk membangkitkan minat dan rasa ingin tahu terhadap suatu konsep atau pokok bahasan.
b)      Untuk memusatkan suatu perhatian terhadap suatu topik yang dibahas dalam  komunikasi.
c)      Mendorong pendengar untuk mengemukakan ide, atau informasi.
Kecakapan juga member kemungkinan kepada komunikator untuk mampu menemukan masalah, tujuan yang di inginkan, sasaran yang dituju dan lebih jauh memungkinkan untuk menemukan diri sendiri.
Ada tiga pokok yang dibicarakan dalam bahasan ini yaitu : pertama, mengapa orang bertanya, kedua, pertanyaan yang bagaimana dapat digunakan dalam komunikasi, dan ketiga, strategi dan teknik bertanya.

B.  Mengapa Orang Bertanya
Fungsi pertama dan utama suatu pertanyaan adalah untuk merangsang, mendorng, menciptakan komunikasi. Dengan mengajukan pertanyaan, kita membuka saluran komunikasi, mulai suatu interaksi verbal, dan menciptakan hubungan dalam bentuk kata. Jika interaksi sudah di mulai dan jalan komunikasi sudah terbuka, fungsi pertanyaan kita dapat berubah. Kita dapat terus mendorong jalanya komunikasi, tetapi juga dapat mempergunakan pertanyaan itu untuk mencapai tujuan-tujuan lain.
a.       Bertanya untuk Mendapatkan Informasi
Pertanyaan dapat digunakan untuk mendapatkan informasi berkenaan dengan tofik yang dibicarakan. Tofik tersebut bias menyangkut masalah sosial, pribadi, pekerjaan dan karier, dan masalah-masalah lain. Informasi yang diperoleh dapat memberikan gambaran mengenai latar belakang, sebab-sebab dan sumber-sumber masalah.

b.      Bertanya untuk Mendapatkan pengertian yang mendalam
Berkat kecakapan kita untuk mengajukan pertanyaan, kita dapat mengerti sudut pandang orang yang diajak berbicara. Karena mengerti sudut pandangnya, kita dapat menyesuaikan isi, dan gaya kita dengan pandangan dia. Kita dapat membantu dia untuk merumuskan gagasan dan isi, cara dan gaya kita dengan pandangan dia. Kita dapat membantu dia untuk merumuskan gagasan dan isi hatinya berdasarkan motif, harapan dan cita-citanya. Kita dapat mengerti kebutuhannya.

c.       Bertanya Memberi Informasi
Dengan pertanyaan ini komunikator mendapatkan fakta dan data yang perlu diketahui. Isinya adalah penyampaian informasi, tetapi bentuknya berupa pertanyaan. Misalnya : apakah engkau sudah tahu bahwa hari jutmat malam, dari jam 7 sampai jam 9 di tempat kerja kita ada kursus bahasa inggris gratis ?
Bentuk pernyataan ini sangat khas dalam arti tidak perlu dijawab, dan jika diberi jawaban rasanya malah lucu. Kecuali dibawah pertanyaan itu kita menyatakan suatu dimensi lain yang secara halus kita sampaikan kepada lawan bicara kita. Bentuk pertanyaan itu berguna untuk menekankan unsur tertentu dalam suatu situasi.

d.      Bertanya untuk mengharapkan partisipasi
Tidak jarang komunikasi kurang komunikatif. Untuk itu kita perlu membantu komunikan agar keluar dari permasalahan. Tujuannya adalah membuka dan mengungkapkan diri, yang akhirnya melibatkan diri dalam komunikasi. Untuk ini kita perlu mencari bentuk pertanyaan yang sesuai dan menemukan saat yang tepat untuk mengajukannya. Dalam hal ini pertanyaan tertutup, seperti : sudah berapalama engkau seperti ini ? jelas tidak membantu. Juga pertanyaan tersebut seperti : Bagaimana perasaanmu sekarang ? rasanya juga tidak menemukan sasaranya. Untuk itu perlu dicarikan pertanyaan lain. Pertanyaan seperti : Selama beberapa hari akhir ini, engkau tampak tidak seperti biasanya. Apakah saya boleh mengetahui sebab-sebabnya?. Pertanyaan yang penuh minat dan perhatiaan ini dapat menjadi awal untuk meruntuhkan hambatan-hambatan yang membuat orang  menarik dan menutup diri. Dengan merasa di perhatikan, meski barang kali masalahnya tidak terselesaikan, orang merasa dimengerti dan dipahami. Akibatnya dia rela unyuk keluar dari masalahnya sendiri, dan mau terlibat dalam hidup dan tugasnya. Jadi pertanyaan untuk mendapat partisipasi dan kerjasama, pada pokoknya bertujuan untuk membantu orang agar lepas dari masalah.

e.       Bertanya untuk ngecek pengertian dan minat
Pertanyaan dapat digunakan untuk mendapatkan umpan balik kritis yang perlu untuk mengetahui benar-benar bahwa komunikasi dan arah betul-betul terjadi. Umpan balik membantu kita untuk memastikan diri bahwa kita telah menangkap  “pesan” yang hendak di sampaikan oleh oran-orang yang di ajak bicara, baik perasaan maupun isinya. Sebaliknya umpan balik ini juga dapat kita pergunakan untuk menilai perasaan dan pengertian seseorang tentang topik yang dibicarakan. Kita perlu mempergunakan pertanyaan untuk mendapatkan umpan balik itu secara teratur dan periodic, untuk mengetahui dengan pasti bahwa kita mengerti  magsud orang-orang yang diajak bicara.  Pertanyaan semacam itu dimulai dengan kata-kata seperti,” baik saya akan mencoba merumuskan secara ringkas masalah-masalah pokok yang telah anda utarakan “ ,” Sejauh saya dapat menangkap, dalam pembicaraan tadi  engkau mengatakan…”
Dan diakhiri dengan kata-kata seperti
“ apakah rumusan saya sesuai dengan apa yang engkau katakana ?”
“apakah penangkapan saya benar?”
Dengan mengajukan pertanyan semacam itu, kita menyampaikan beberapahal penting kepada orang yang diajak bicara, pertama, kita menunjukan bahwa kita berusaha sungguh-sungguh untuk mendengarkan. Kedua, kita membuktikan dengan tindakan konkrit bahwa hal-hal yang mereka kemukakan penting. Ketiga kita menegaskan hal-hal yang dikemukakan itu, sehingga salah pengertian dan rasa tidak enak dapat dihindari.
            F. Bertanya untuk mengajak berpikir
             pertanyan yang kita ajukan untuk memperoleh pendapat dan usulan, membantu orang yang diajak berbicara untuk berpikir, dan menyumbangkan gagasan yang kita perlukan. Bila kita minta pendapat, kita mengakui kemampuanya untuk menyumbangkan sesuatu yang berarti dan berharga. Permintan pendapat ini bukanlah merupakan semacam usaha untuk menarik hati orang yang diajak berbicara. Karna kita memang betul-betul menerima, menghargai dan memanfaatkan sumbangan dan pengetahuanya. Dasarnya adalah keyakinan bahwa orang yang kita ajak bicara mempunyai pengetahuan yang cukup tentang apa yang dikatakan.
            Maka dengan menanyakan pendapat kita bermaksd memanfaatkan pengalamanya untuk menyampaikan usulan yang berguna dalam pengambilan keputusan.
            G. Bertanya untuk mencapai kesempatan
            Dengan mengajukan kepada orang yang diajak bicara apakah dia setuju dengan pemikiran, pendapat ,saran kita, kita bisa mengerti bagaimana hubungan kita dengan dia. Sia-sialah untuk maju terus dengan suatu perkara, jika orang yang diajak bicara tidak berakhir pada jalan buntu, sebelum itu lebih baik menggali bidang-bidang yang disetujui dan tidak disetujui bersama. Untuk itu kita dapat bertanya, “apa yang saya usulkan tadi, tidak bertentangan dengan pengalamanmu?’’ . susunlah pertanyan yang diajukan, kita memberikan waktu kepada lawan bicara untuk berpikir dan mengeluarkan pendapat, apakah dia setuju atau tidak dengan kita. Sehubungan dengan ini, maka usaha untuk mendapatkan kesepakatan lewat inti pertanyaan yang mendadak dan tiba-tiba perlu dihindari.
            H. Bertanya untuk menarik kembali perhatian pada masalahnya
            Jika kita tidak berhasil menahan perhatian lawan bicara, karna terpusat pada masalah yang dibicarakan, itu dengan mengajukan pertanyan kepada dia. Menyelewengkan perhatian kemasalah yang lain itu bersipat sementara. Untuk ini kita dapat mengajukan sebarang pertanyan kembali untuk menarik perhatianya. Tetapi jika kekurangan perhatian dan kejenuhan itu berlangsung lama, kita perlu mencari waktu lain yang lebih baik, dimana komunikan lebih siap kita ajak berbicara mengenai hal yang kita anggap penting untuk dibahas bersama.
I. Bertanya untuk menemukan kesenjangan antara keinginan dengan kenyataan
Banyak orang yang mengatakan bahwa dia melakukan sesuatu sesuai dengan kemampuan atau keadaanya. Tetapi tidak. Tujuan pertanyan adalah untuk membantunya menyadari keadaan dan melihat hubungan antara keadaan itu dengan cita-cita yang seharusnya dicapai. Pertanyan ini pada pokoknya menyangkut hal-hal yang tidak memuaskan, kesulitan yang dijumpai, hambatan yang ada, pada waktu dan melakukan sesuatu itu. Berkat jawabanya kita dapat membantu memahami keduanya dengan menyampaikan imformasi dan penjelasan yang perlu. Bersama itu perlu komunikator dapat menjelaskan hubungan antara keinginan dengan kenyataan. Dalam konseling upaya ini disebut dengan personalisasi, artinya menggerakan komunikasi kepada komunikan tentang masalahnya, tujuan yang ingin dicapai dengan keadaan yang dirinya.

C.  Macam-Macam Pertanyan
            Untuk mengetahui/mendapatkan imformasi dari komunikan, ada beberapa jenis pertanyan yaitu:
a.       Pertanyan terbuka
Pada umumnya pertanyan terbuka dipergunakan untuk mendapatkan berbagai jawaban atas satu pokok yang luas. Dengan pertanyan terbuka kita dapat menanyakan pengetahuanya mengenai satu hal atau pendapatnya mengenai sesuatu. Pertanyan terbuka biasanya,
·         Tidak dapat di jawab dengan “ya” atau “tidak”
·         Dimulai dengan kataapa, bagaimana, dan mengapa
·         Tidak mendorong orang yang kita tanyai menuju kearah tertentu
·         Mengembangkan dialog dengan menarik perasaan dan pendapat orang yang kita tanyai
·         Dapat dipergunakan untuk member angin kepada orang yang kita tanyai untuk membeberkan tujuan, kebutuhan, kekurangan, masalah, situasi yang ada.
·         Dapat dipergunakan untuk membantu orang yang kita tanyai menemukan masalahnya sendiri
·         Dpat dipergunakan untuk merangsang orang yang kita tanyai memikirkan gagasan, saran, pengarahan kita.
·         Membantu orang yang kita tanyai menampakan gaya mereka secara lebih siap dan tepat.
Pertanyan-pertanyan yang diajukan dapat membantu agar wawancara tetap dapat berlangsung. Pertanyan-pertanyan yang diajukan membuka bidang-bidang diskusi yang baru, membantu menunjukan isu dengan tepat, dan dapat digunakan membantu klien agar meneliti atau mengeksplorasi aspek-aspek masalahnya.
            Klien mengikuti wawan cara karena merasakan suatu masalah tugas pertama pewawancara adalah “menjauhkan diri dari klien” agar ditemukan bagaimana klien melihat situasinya. Alat yang bermanfaat untuk menentukan kegiatan ini ialah keterampilan menciptakan struktur yang terbatas dengan menggunakan pertanyaan terbuka.
            Ajakan terbuka untuk berbicara member kesempatan klien agar mengeksplorasi dirinya sendiri dengan dukungan pewawancara. Kegiatan itu member peluang klien untuk mengeksplorasi dirinya tanpa menyesuaikannya dengan setiap kategori yang telah ditentukan oleh pewawancara.
            Sebaliknya pertanyan tertutup, biasanya lebih melacak isi pembicaran factual daripada perasan, mendemonstrasikan kurangnya minat terhadap apa yang telah dikatakan oleh klien, dan kadang-kadang menyerang klien tanpa menyadari posisinya. Karena pertanyan tertutup biasanya dapat dijawab dengan beberapa kataatau dengan kata ”ya” atau “tidak”, jarang memperkuat klien untuk mengeksplorasidirinya sendiri. Yang lebih jelek lagi, penggunaan sejumlah pertanyaan tertutup lebih memudahkan timbulnya semacam “introgasi” dari pada konseling.
            Pada umumnya pertanyan terbukan member peluang klien untuk mengemukakan ide, perasaan, dan arahnya dalam wawancara. Responya terhadap pertanyan terbuka ialah untuk menunjukan kesadaranya bahwa dia diminta untuk menceritakan sejarahnya atau lebih menjabarkan apa yang telah dikatakan.
            Pengamat minimal adalah indikator kecil terhadap orang lain, bahwa anda (konselor) bersama klien. Sekali anda telah mengajukan pertanyan (atau menggunakan keterampilan konseling yang lain), anda menginginkan agar klien lebih terdorong berbicara terus. Kegiatan ini dapa dilaksanakan secara non verbal atau dengan mengekspresikan ungkapan singkat yang menunjukan bahwa anda mendengarkan bersama dengan orang yang sedang dibantu.
b.      Pertanyan tertutup
Meminta jawaban yang tegas mengenai suatu hal yang khusus. Jawaban itu “ya”.”tidak” atau “singkat”. Pertanyan tertutup biasanya,
·         Memberi kemungkinan untuk memperoleh fakta dan data yang diperlukan.
·         Menuntut pemikiran sedikit dari orang yang ditanyai.
·         Berguna dalam proses umpan balik
·         Dipergunakan untuk mendapat kesanggupan atau keterlibatan dalam pendirian atau hal tertentu.
·         Dapat dipergunakan untuk menekankan pertanyan-pertanyan yang positif.
·         Dapat dipergunakan untuk mengarahkan pembicaraan menuju kebidang pembicaran tertentu.
Contoh-contoh pertanyan tertutup, misalnya,
·         “berapa jam engkau bekerja dalam seminggu?”
·         “apakah engkau berpendapat bahwa hal itu dapat dikerjakan dengan lebih baik?”
·         “apakah hal itu yang paling kamu perhatikan?”
·         “apakah itu merupakan pemecahan terbaik?”
Pertanyan-pertanyan yang baik
Pertanyan yang baik digolongkan menjadi tiga jenis yaitu:
·         Pertanyaan yang membantu memulai wawancara umpamanya apa yang akan anda bicarakan hari ini? Bagaimana keadan anda sejak pertemuan terakhir kita?
·         Membantu lawan bicara mengutarakan sesuatu, misalnya : dapatkah anda menceritakan lebih banyak lagi tentang hal itu? Bagaimana perasan anda saat kejadian itu?
·         Membantu memunculkan contoh-contoh prilaku khusus sehingga pewawancara dapat memahami dengan lebih baik apa yang dijelaskan oleh komunikan atau lawan bicara. Umpamanya: apa yang anda sedang rasakan pada saat anda menceritakan hal ini kepada saya? Bagaimana perasan anda selanjutnya pada waktu itu?
Sebaliknya pertanyan yang jelek apabila:
·         Pemakaian pertanyan tertutup yang terlalu sering. Umpamanya: apakah kita akan membicarakan kembali tentang hubungan anda dengan hari ibu ini? Apakah telah terjadi perbaikan hubungan sejak pertemuan terakhir kita?
·         Pengajuan pertanyan lebih dari satu pada waktu yang sama. Umpamanya: dapatkah anda menceritakan lebih banyak lagi tentang hal itu? Apakah anda harus memasuki pekerjaan itu?
·         Pengajuan pertanyan mengapa. Umpamanya: mengapa anda tidak bergaul dengan baik? Sebagai catatan, pertanyaan, “mengapa “sering menyudutkan orang. Pertanyan itu sukar dijawab karena kita tidak terlalu mengetahui “mengapa”. Pertanyan-pertanyan yang dimulai dengan “apa”, “bagaimana” atau “dapatkah” memberi peluang yang lebih banyak pada klien untuk mengemukakan hal-hal yang berkaitan dengan topiknya.
·         Memasukan jawaban dalam pertanyan anda, umpamanya “anda sebenarnya belum mengerti hal itu pada saat anda mengatakan tentang ayahnya, bukan?”
Sedangkan macam pertanyan lain pada umumnya sudah masuk dalam kategori pertanyan terbuka atau tertutup. Tergantung dari impormasi yang kita butuhkan dan situasi pada waktu pertanyaan diajukan. Didalam kategori pertanyaan terbuka dan tertutup itu, kita dapat menemukan macam-macam pertanyan berikut.
a.       Pertanyan untuk menemukan fakta
Pertanyan tentang fakta biasanya mengambil bentuk pertanyan tertutup. Dengan bentuk pertanyaan itu kita dapat memperoleh imformasi tentang keadan, tujuan, cita-cita dan hal-hal lain yang kita perlukan. Biasanya pertanyan itu mudah untuk dijawab dan dapat diperguna untuk mengajak orang masuk ke dalam pembicaraan secara mudah dan bertahap. Jika fakta yang ingin kita ketahui tidak sensitif, mengancam atau menantang, pertanyan tentang fakta dapat kita pergunakan untuk mulai membangun saling percaya dengan orang yang kita tanyai. Dari situ pertanyan dapat kita angkat menjadi pertanyan untuk mengetahui persaan.
Pada waktu mengajukan pertanyan untuk mendapat fakta, kita harus menjaring informasi yang memang perlu untuk pembicraan saat itu. Tambahan pula informasi yang kita terima itu kita dengar dan kita ingan betul-betul. Kalau perlu mengecek hal yang kita terima dengan menanyakan kepada orang yang kita tanyai apakah penangkapan dan catatan kita benar:
·         “golongkan berapa gajimu karang?”
·         “engkau sudah memiliki beberapa kredit?”
·         “berapa jam yang telah kaw habiskan untuk mengerjakan pekerjaan ini?”
·         “kapan engkau merencanakan mengambil cuti kuliah?”

b.      Pertanyaan untuk menemukan perasaan
Pertanyan untuk menemukan perasaan biasanya terbuka. Pertanyan itu dipergunakan untuk mengenali perasan sikap,keyakinan, motivasi, dan isi hati orang yang kita tanyai. Sifat pertanyan kadang-kadang dapat bersifat peribadi dan menyentuh bidang-bidang yang sensitif kita mesti yakin dulu, bahwa hubungan baik dan saling percaya dapat terbentuk.
Bentuk-bentuk pertanyaan untuk menemukan perasaan , misalnya:
·         “Bagaiamana perasaanmu  setelah diterima kerja?”
·         “Dapatkah anda menjelaskan, bagaimana perasaanmu ketika bertemu dengan orang yang baru cinta?”
·         “ Bagaimana perasaanmu jika kebijakan ini dengan laksanakan?”
·         “Dapatkah engkau jelaskan mengapa engkau selalu tampak tidak suka, jika harus bekerja sama dengan A?”

c.       Pertanyaan untuk memperjelas.
Menurut strukturnya, pernyataan ini mengatakan kembali dengan kata-kata sendiri ucapan orang yang kita tanyai. Bentuk pertanyaan ini bukan untuk menyatakan apa yang dimaksud oleh orang yang mengucapkan kata-kata. Pertanyaan ini digunakan untuk mempertegas, umpan balik, tentang apa yang kita ketahui dari ucapan yang sudah, dengan pernyataan untuk memperjelas mencari kepastian tentang isi atau perasaan dari hal yang dikatakan orang. Pernyataan jenis ini bertujuan untuk.
·         Mengucapkan dengan kata lain tafsiran kita mengenai apa yang dimaksud oleh mereka
·         Mengajak mereka untuk menguraikan lebih luas dan atau menjelaskan hal yang sudah diutarakan sebelumnya.
·         Mencari kepastian apakah kita dan (komonikator dan komunikasi) berbicara dalam bahasa yang sama.
·         Membantu mereka memperjelas hal-hal yang kita rasa masih kabur dan ungkapan-ungkapan umum yang terlalu luas.
·         Menemukan apa yang sebetulnya ada dalam hati mereka.
Contoh,
·         “ jika saya mendengarkan dengan baik, rupanya hal-hal yang kau perhatikan pada saat ini ialah…. Benarkah itu?”
·         Dari semua hal yang telah kau utarakan saya mendapat kesan bahwa engkau amat kecewa, Betul begitu?”
·         “ Jika saya tidak salah tangkap, ada dua masalah yang hendak engekau sampaikan pada saya, Pertama…….., Kedua………, betul demikian?

d.       Pertanyaan untuk memperluas
Jenis pertanyaan ini diajukan untuk mendapatkan jawaban luas mengenai suatu pokok yang sempit. Pertanyaan dapat membantu kita untuk,
·          Menanyakan informasi tambahan dalam bentuk yang lebih terinci
·         Mendorong orang yang kita tanyai untuk menguraikan dan/atau mengembangkan pokok yang sudah diuraikan.
Contohnya,          
·         “Dapatkah engkau memberi contoh sehubungan dengan apa yang engkau maksudkan tadi?”
·         “ Apakah engkau dapat menguraikan lebih lanjut butir itu?”
·         “Dapatkah engkau mengatakan lebih lanjut mengenai hal itu?”
·         “Apakah ada unsur-unsur yang lain yang masih dapat ditambahkan pada uraianmu tadi?”
e.  Pertanyaan yang direktif
Bentuk pertanyaan yang direktif adalah pertanyaan tertutup. Tujuannya untuk mengarahkan pembicaraan ke suatu bidang yang hendak diperhatikan secara khusus. Pertanyaan semacam itu amat berguna jika :
·         Kita ingin mengubah pembicaran dari satu pokok ke pokok yang lain
·         Kita mau memberikan arah khusus untuk jawaban yang hendak yang kita peroleh dari orang yang kita tanyai.
·         Kita ingin membantu orang yang kita tanyai, agar lebih mengerti kebutuhan, masalah dan harapan-harapannya.

Contohnya :
·         “Apakah ada hal lain yang hendak kau bicarakan dengan saya pada saat ini?”
·         “Apakah engkau masih dapat mengerjakan hal yang sama untuk satu minggu lagi?”
·         “Apakah engkau mengirim surat ini besok pagi?”
·         “Sejauh saya tahu masih ada tiga masalah lagi yang kita perlu pecahkan.”

f.    Pertanyaan Asumtif
Pertanyaan asumtif adalah pertanyaan yang mengandung unsur pengandaian. Pertanyaan ini sifatnya tidak pasti. Untuk dapat menggunakan pertanyaan ini dengan berhasil, kita harus tahu dengan pasti keadaan pikiran, dan sikap orang yang kita ta tanyai sehubungan dengan hal yang kita tanyakan. Kita akan ditertawakan orang, jika pertanyaan itu kita ajukan dengan pengandaian yang salah.
Dengan kata lain pertanyaan asumtif ini diketengahkan kepada lawan bicara kita, apabila kita telah mengetahui sedikit arah pikiran dan perasaan seseorang terhadap apa yang akan kita tanyakan. Contoh : dari percakapan sebelumnya diketahui bahwa orang yang kita ajak bicara butuh uang. Pertanyaan asumtif adalah anda mengambil pekerjaan tambahan besok sore?.
Pertanyaan-pertanyaan ini juga harus tepat waktu. Jika tidak dapat dirasakan sebagai “jebakan”, untuk memaksa orang-orang yang diajak berbicara agar mengambil keputusan dalam perkara yagn mereka tidak sikap. Hal ini dapat membuat mereka kehilangan kepercayaan kepada kita.

g.   Pertanyaan Menguji
Pertanyaan ini berperanan untuk mengukur keadaan hati, sikap atau pendirian orang-orang yang kita tanyai mengenai suatu pokok atau masalah tertentu. Pertanyaan itu baik kita ajukan, bila kita perlu menentukan tingkat kesetujuan atau ketidaksetujuan mereka mengenai segi atau unsur-unsur masalah yang dibicarakan. Amat tepat jika kita mempergunakan pertanyaan yang menguji itu, pada waktu kita mengadar usaha pemecahan masalah bersama dengan orang yang kita ajak bicara.
Contoh :
·         “Bagaimana pendapatmu?”
·         “Sejauh mana masalah itu engkau pandang penting?”
·         “Apakah langkah semacam itu baik?”

h.   Pertanyaan Meminta
Pertanyaan ini diajukan untuk mendapatkan kesempatan bersama atau melaksanakan rencana atau keputusan bersama. Bentuk pertanyaan itu adalah pertanyaan terbuka di gabung dengan pengarahan. Meski bentuknya pertanyaan terbuka, namun juga mengarahkan seseorang untuk melibatkan diri pada sesuatu.
Contoh :
·         “Bagaimana kita akan melanjutkan pembicaraan kita?”
·         “Tindakan apa yang akan kamu ambil untuk mengatasi masalah itu?”
·         “Langkah berikut mana yang harus kita ambil untuk menyelesaikan masalah ini?”

D.    Strategi dan Teknik Bertanya
Dengan kecakapan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan, kita mengawali dan menghidupkan pembicaraan yang meningkatkan hubungan kita dengan orang-orang yang diajak bicara. Entah bagaimana sifat orang tersebut, pendiam, suka bicara atau biasa-biasa saja, jika kita cakap mengajukan pertanyaan kita akan mendapatkan data atau informasi yang kita butuhkan, namun tetap menjaga hubungan baik dengannya. Cara suatu pertanyaan diajukan sama pentingnya dengan isi pertanyaan yang diajukan. Untuk menjaga dan meningkatkan mutu cara kita mengajukan pertanyaan, strategi umum untuk memilih pertanyaan di bawah ini dapat membantu.

E.     Pilihan Waktu Yang Tepat
Jika orang-orang yang diajak bicara tidak siap untuk menerima pertanyaan, kita tidak akan mendapat jawaban yang kita butuhkan. Pertanyaan harus diajukan pada saat yang tepat, tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat. Untuk dapat mengajukan pertanyaan yang tepat diperlukan kepekaan dan kejelian membaca orang-orang yang diajak bicara. Tepat tidaknya waktu kita mengajukan pertanyaan itu membawa pengaruh kepada orang yang diajak bicara. Pertanyaan yang diajukan terlalu cepat dapat memberi kesan kurang sabar dan dapat menjadi seperti introgasi. Sebaliknya pertanyaan yang diajukan terlalu lambat dapat menimbulkan kesan bahwa kita kurang siap terhadap masalah yang menciptakan kebosanan pada orang-orang yang kita tanyai.


F.     Menyiapkan Rencana Pertanyaan
Menyiapkan rencana pertanyaan tidak berarti membuat daftar pertanyaan yang panjang dan tertulis lengkap sampai sekecil-kecilnya. Cukup jika kita siap betul tentang gagasan pokok mengenai informasi yang ingin kite peroleh. Persiapan ini merupakan awal pembicaraan, titik tolak pengembangan pertanyaan-pertanyaan dan titik kembali jika pertanyaan melantur dan menyeleweng dari tujuan. Dengan persiapan itu, kita dibantu untuk menyusun pertanyaan-pertanyaan sedikit demi sedikit membawa kita kepertanyaan pokok yang ingin kita ajukan kepada lawan bicara kita. Hal ini amat terasa perlu, manakala pertanyaan pokok itu menyentuh hal-hal yang amat sensitive. Pedoman pertanyaan ini bisa disisipkan kalau permasalahan yang akan dibahas diketahui sebelumnya tentang latar belakangnya.

G.    Mengenal Orang Yang Kita Tanyai
Dalam komunikasi latar pribadi, mengenai dan memahami seseorang yang akan diajak bicara adalah merupakan komponen pokok yang paling penting. Berkomunikasi dengan orang-orang di pasar pada waktu berbelanja, dengan pegawai bank di kantor bank, dengan berkomunikasi antar pribadi dengan seseorang yang khusus dilakukan. Dengan memiliki informasi mengenai latar belakang pribadi, keluarga, pendidikan, keyakinan, agama, sikap, minat, pendapat, cara kerja, gaya hidup orang yang kita tanyai, kita dibantu untuk menyusun dan mengajukan pertanyaan yang tepat kepada dia. Memang untuk mengenal orang diperlukan usaha dan waktu yang relatif memadai.

H.    Minta Izin Sebelum Mengajukan Pertanyaan
Meskipun izin itu tidak selalu dituntut, tetapi baik jika kita selalu minta izin sebelum mengajukan pertanyaan. Permintaan izin untuk mengajukan pertanyaan ini membuat orang-orang yang kita tanyai merasa tenang. Karena permintaan izin menunjukkan sikap hormat kita kepada orang-orang yang kita tanyai. Dengan demikian permintaan izin sebelum mengajukan pertanyaan kepada orang-orang yang kita tanyai, dapat merupakan langkah pertama untuk membangun sikap saling percaya dan memperlancar jalannya pembicaraan. Hal ini dianggap penting pula, terutama kepada orang-orang yang baru pertama kali kenal dengan kita. Contoh : “tidakkah anda keberatan jika saya menanyakan tentang latar belakang keluarga ini?”

I.       Bergerak Dari Pertanyaan-Pertanyaan Umum (Luas) Menuju Ke Pertanyaan-Pertanyaan Khusus (Sempit)
Pertanyaan umum seperti, “Dapatkah engkah menceritakan kepada saya sedikit tentang keprihatinanmu?”. Pertanyaan terbuka, memberi kepada orang-orang yang kita tanyai kebebasan dan keleluasan untuk menjawab. Dari jawaban itu keprihatinan pokok mereka akan dapat terungkap. Kecuali itu dari jawaban itu kita juga akan mendapat informasi, misalnya prihatin atas musibah yang menimpa dirinya, atau prihatin atas kegagalan usahanya. Dari jawaban umum ini kita akan mendapat jawaban pokok/khusus sebagai inti dari pembicaraan kita. Dalam banyak hal dengan pertanyaan umum itu kita kerap sudah mendapat jawaban atas pertanyaan khusus yang ingin kita ajukan.

J.      Mengembangkan Pertanyaan Berdasarkan Jawaban Sebelumnya
Kita perlu mendengar dulu sebelum mengajukan pertanyaan. Dari pada sibuk memikirkan pertanyaan yang takan kita ajukan, lebih baik memusatkan perhatian pada hal-hal yang dikatakan oleh orang yang berbicara dengan kita, untuk menjawab pertanyaan yang kita ajukan sebelumnya. Berpangkal dari jawaban itu kita merumuskan pertanyaan kita selanjutnya dan pada saat mengajukan pertanyaan itu kepada orang yang berbicara dengan kita. Cara ini akan membawa banyak keuntungan seperti :
·      Kita memusatkan perhatian pada apa yang dikatakan orang dan tidak memberi kesempatan kepada pikiran kita untuk melantur ke hal-hal lain.
·      Proses bertanya berjalan teratur, logis dan berfokus
·      Dengan mengajukan pertanyaan berdasarkan jawaban sebelumnya, kita nyata-nyata menunjukkan bahwa kita mendengarkan orang yang kita tanyai.
·      Kita dapat mencoba mengoreksi lebih jauh hal-hal yang menjadi minat orang-orang yang kita tanyai.
Usaha inilah sesungguhnya merupakan salah satu faktor penting untuk memperlancar komunikasi

K.    Memfokuskan Pertanyaan
Pertanyaan sebaiknya membantu orang yang berpikir secara logis mengenai hal yang kita tanyakan. Dari pada menanyakan berbagai hal sekaligus, lebih baik mengambil satu pertanyaan sama kita ikuti satu alur pemikiran yang dengan mudah dapat diikuti oleh orang yang kita tanyai. Dengan langkah demikian kita, memperbesar kemungkinan untuk mendapatkan pemecahan masalah atau hasil wawancara yang baik.



L.     Hanya Mengandung Gagasan Pokok
Kita perlu merumuskan pertanyaan, sehingga pertanyaan itu hanya mengandung satu gagasan pokok. Orang yang kita tanyai harus mengerti apa  yang kita tanyakan. Jika tidak, kita juga tidak mendapat jawaban yang kita butuhkan. Dengan pertanyaan yang dirumuskan secara baik, orang yang kita tanyai dapat memusatkan perhatian pada gagasan pokok yang kita ajukan lewat pertanyaan. Sedang pertanyaan yang mengandung banyak gagasan membuat seseorang menjadi bangun dalam memikirkan jawaban. Misalnya: “Dapatkah engkau menceritakan cita-citamu, usahamu untuk mencapai cita-cita, dan hambatan serta dukungan yang engkau jumpai dalam usaha mencapai cita-cita itu?”. Dengan pertanyaan semacam ini orang yang kita tanyai sudah lupa mengabaikan isi pertanyaan, sebelum kita sendiri berhenti dengan pertanyaan kita.

M.   Menghindari Pertanyaan Yang Kabur
Pertanyaan kabur adalah pertanyaan yang rumusannya tidak jelas dan terbuka untuk berbagai penafsiran. Kita akan mendapat jawaban yang kabur, jika kita mengajukan pertanyaan yang kabur. Kita akan mendapat jawaban jelas, jika pertanyaan kita jelas. Rumusan pertanyaan yang baik menghindari kekaburan dan meningkatkan saling pengertian. Contoh : “Mengapa prestasi yang kamu capai tidak bagus seperti yang dicapai oleh teman-temanmu yang lain di kelas. Pertanyaan ini tidak jelas jawabannya bagi seorang siswa.

N.    Mempergunakan Bahasa Biasa
Pada waktu kita mengajukan pertanyaan, kita sebaliknya menghindari kata-kata teknis, istilah-istilah khusus, yang tidak sepenuhnya di mengerti oleh orang yang kita tanyai. Kita juga perlu menghindari kata-kata sulit. Karena dengan kata-kata teknis dan sulit itu, kita mengajukan pertanyaan yang sukar atau tidak sepenuhnya dapat ditangkap. Akibatnya yang kita peroleh juga tidak tepat seperti kita harapkan.


O.    Mengajukan Pertanyaan Sesuai Dengan Masalah dan Kebutuhan
Dalam mengajukan pertanyaan, sebaiknya kita mengajukan pertanyaan sesuai dengan masalah. Apakah pertanyaan untuk mendapatkan data, memahami perasaan, memperjelas, mengembangkan, mengarahkan, mengulang, menguji dan pertanyaan yang meminta. Tujuannya agar kita dapat melibatkan orang yang kita tanyai dalam proses tanya jawab. Dengan demikian pertanyaan yang diajukan makin berarti dan tepat, sedang jawaban yang diperoleh makin lengkap dan sesuai kebutuhan.

P.     Tidak Menggunakan Pertanyaan Yang Menyinggung
Pertanyaan ini menyinggung harga diri orang yang kita tanyai. Contoh : Kalau tahu acaranya penting kamu mestinya datang jam…. Jam berapa sekarang?. Pertanyaan ini kurang manusiawi, tetapi untuk mengancam dan mencoreng muka lawan bicara. Pertanyaan ini dapat menyakitkan hati dan merusak hubungan baik.

Q.    Memberi Alasan Pada Waktu Mengajukan Pertanyaan Yang Sensitif
Dengan menerangkan mengapa pertanyaan diajukan dan mengapa informasi mengenai hal sensitive perlu disampaikan?. Dengan pertanyaan itu ada kemungkinan kita mendapat jawaban yang lengkap, jujur dan tepat. Penjelasan mengenai alasan itu memberi dasar untuk, mengurangi kecurigaan, dan menepis rasa cemas yang mungkin muncul sehubungan dengan perkara yang ditanyakan.


 
   


BAB III
PENUTUP
3.1       Kesimpulan
Mendengarkan merupakan proses intelektual dan emosional. Dengan proses itu orang mengumpulkan dan mengintegrasi antara input, fisik, emosional dan intelektual dari orang lain dan berusaha menangkap pesan serta maknanya. Mendengar dengan baik tidak terjadi dengan gampang. Mendengarkan merupakan kerja keras. Mendengarkan bukan hanya menyangkut konsentrasi, dan kepekaan tetapi juga berbagai perubahan fisik dalam tubuh. Pada waktu mendengarkan dengan baik, detak jantung kita bertambah, suhu badan semakin menaik, dan peredaran darah menjadi lebih cepat.
Agar dapat menjadi pendengar yang baik, kita harus berusaha menjadi objektif. Meskipun objektivitas penuh itu jarang ada, mendengarkan menuntut usaha yang secara sadar mencoba untuk mengerti orang yang berbicara dengan kita, tanpa membiarkan pendapat pribadi mempengaruhi arti dan maksud kata-katanya. Kita harus berusaha untuk mengerti apa yang hendak disampaikan kepada kita oleh orang yang berbicara dengan kita dan bukan apa yang ingin kita mengerti. Bertanya adalah kegiatan yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari. Disekolah, di kantor, di rumah dan dimana saja selalu terjadi kegiatan Tanya jawab.
Keterampilan bertanya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam rangka meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran, yang sekaligus merupakan bagian dari keberhasilan dalam pengelolaan instruksional dan pengelolaan kelas. Melalui keterampilan bertanya guru mampu mendeteksi hambatan proses berpikir di kalangan siswa dan sekaligus dapat memperbaiki dan meningkatkan proses belajar di kalangan siswa. Dengan demikian, guru dapat mengembangkan pengelolaan kelas dalam CBSA dan sekaligus pengelolaan instruksional menjadi lebih efektif. Selanjutnya dengan kemampuan mendengarkan guna dapat menarik simpati dan empati di kalangan siswa sehingga kepercayaan siswa terhadap guru meningkat yang pada akhirnya kualitas proses pembelajaran dapat lebih di tingkatkan.

3.2       Saran-Saran
            Agar pembaca mengetahui bagaimana keterampilan mendengar dan bertanya yang baik. Selain itu juga pembaca dapat mengimplementasikan keterampilan mendengar dan bertanya dalam kehidupan sehari-hari dengan baik.

1 komentar:

  1. Sumber nya mana ya mbak? Mau ku pake tugas kuliah hehe makasih - Mikhael UNY

    BalasHapus